Sejarah Singkat

Dengan asma Allah yang Maha Pengasih tak pillih kasih dan Maha Penyayang tak kepalang sayang. Segala puji bagi-Nya, pengatur, pendidik, pengurus semesta alam. Shalawat dan salam bagi Nabi Muahammad saw, keluarga, sahabat serta pelanjut risalah-Nya sepanjang zaman.

Bulan September 1997, saat pertama kali Ibu dan Bapak Loet Affandi menapakkan kaki di Desa Galudra, mereka sudah jatuh cinta pada desa tersebut. Di mata mereka, Desa Galudra sangat indah, walau tentunya saat itu Desa Galudra termasuk desa tertinggal, hutan bambu dimana-mana, telepon dan listrik yang terbatas, jalan masuk yang sangat jelek, berjalan di atas batu, hingga membuat perjalanan terasa panjang.

Desa Galudra adalah salah satu desa di Kecamatan Cugenang yang memiliki sumber daya alam berupa hasil bumi sayur mayur yang cukup melimpah. Terletak di lereng Gunung Gede dengan ketinggian ± 1.100 – 1.400 m di atas permukaan laut. Kondisi tanahnya sangat subur dengan lahan tidak terlalu sulit dijangkau, dimana jalan yang menuju wilayah Galudra adalah jalan nasional yang menghubungkan Ibu Kota Jakarta menuju Bandung dan terlatak hanya  ± 3KM dari jalan arteri primer tersebut. Desa Galudra sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan.

Penduduk Desa Galudra umumnya petani dan sangat agamis dangan latar belakang agama Islam. Dalam kehidupan sehari-harinya Desa Galudra kurang termotivasi untuk lebih meningktkan derajat hidupnya. Umumnya masyarakat telah merasa cukup dengan terpenuhinya kebutuhan sandang pangan dan papan sehari-hari.

Dalam mengolah Pendidikan, Sarana maupun Prasarana Pendidikan yang dimiliki Desa Galudra dan sekitarnya terhitung kurang atau bahkan tidak mencukupi jenjang pendidikan, yang hanya sampai tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah, sekolah lanjutan yang ada jaraknya jauh dari Desa Galudra. Secara selintas dapat diperkirakan anak-anak lulusan Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah banyak yang tidak melanjutkan sekolahnya, mereka hanya membantu orang tuanya di kebun atau menganggur.

Sebagian anak-anak tersebut sangat senang apabila melihat Ibu dan Bapak Loet Affandi datang ke kebun, mereka berlari menyambut kedatangannya, mereka membantu apa saja, mencangkul,, mengoyos, dan ikut panen, mereka mengharap imbalan tidak seberapa dari hasil kerja mereka. Suatu ketika Ibu membawa buku cerita untuk mereka baca, setelah selesai membacanya, mereka tidak dapat menceritakan kembali. Ibu dan Bapak dapati pula di desa tersebut saat itu anak-anak perempuan usia 15 tahun sudah menjadi janda. Ternyata mereka menikah salam usia sangat muda ± 12 tahun. Perkawinan, mereka anggap solusi dari masalah ekonomi yang mereka hadapi, padahal sebenarnya menambah panjang rantai kemiskinan. Kedua hal tersebut di atas membuat kamu prihatin dan sedih, jarak hanya ± 100 KM dari Jakarta, masih ada anak yang tidak bersekolah dan kawin muda.

Gambaran miskin menjadi bodoh, bodoh menjadi miskin yang semakin panjang jelas di depan mata. Rantai ini harus dipupus yaitu dengan pendidikan. Sejak saat itu, Ibu dan Bapak mulai membantu memperbaiki degung SD Mitra Bakti yang lokasinya berdampingan dengan kebun, lalu membuat rumah dinas gurunya agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Kemudian timbul niat sederhana untuk membangun SMP 3 lokal saja, dan diceritakan kepada Umay, guru ngaji sekaligus anak asuhnya yang sudah memiliki Pesantren di Jampangkulon Sukabumi.

Terlebih ketika Ibu dan Bapak menghadiri undangan peresmian Masji Darul ‘Amal di pesantren tersebut, menambah keyakinan bahwa pendidikan adalah solusi terbaik  demi memutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan di atas, serasa berujar ”Ibu kagum dan iri, Pa Umay yang masih muda sudah memikirkan umat dan sudah berkarya, Ibu pingin seperti Pak Umay”. Setelah berdiskusi dan melakukan survey ke lokasi, maka tepatnya pada tanggal 7 Desember 1998, didirikan Yayasan Al-Ma’shum Mardiyah dengan notaris Saymsul Akbar.

Dengan penuh tanggungjawab serta tawakal kepada Allah, Pak Umay mulai melakukan penjejakan sekaligus pendekatan kepada masyarakat sekitar pada acara shalat Jum’at di beberapa masjid dan puncaknya pada acara buka puasa bersama di Villa milik ibu dan bapak tersebut.

Hasil survey sederhana diketahui bahwa dari 7 SDN dan 1 MI di lingkungan Kecamatan Cugenang, Cianjur yang jumlah rata-rata siswa kelas enamnya 30 anak, yang melanjutkan ke SMP rata-rata hanya 3 orang dan 27 orangnya lagi mencukupkan pendidikan sampai dengan tingkat SD.

Ketika dicari akar permasalahannya, diketahui :

  1. Sekolah Lanjutan Pertama yang paling dekat adanya di Cipanas, dari kampung Haregem, Nyalindung, Galudra harus naik ojek yang ongkosnya PP Rp. 4.000,-/hari, suatu jumlah yang cukup besar bagi kebanyakan mereka pada waktu itu (Tahun 1999).
  2. Kesadaran masyarakat tentang urgensinya pendidikan putra-putri mereka sebagai investasi dunia-akhirat masih sangat rendah.
  3. Anak-anak usia sekolah dasar dan menengah sudah dilibatkan dalam pekerjaan orang tuanya sebagai buruh tani, dan bagi anak perempuan segera dinikahkan.

Hasil pendekatan dengan masyarakat di atas, terjaringlah 66 siswa baru sebagai siswa angkatan pertama SMP Terpadu Al-Ma’shum Mardiyah Tahun Pendidikan 1999/2000 yang baru didirikan dengan biaya gratis. Sekolah ini menggunakan sistem boarding school dengan nama Pesantren Terpadu Al-ma’shum Mardiyah.

Demikian sekelumit kisah sejarah berdirinya Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Terpadu Al-Ma’shum Mardiyah di Kampung Haregem Desa Galudra Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.